Densus 88 AT Polri Temukan True Crime Community, Anak-anak Rentan Terpapar Kekerasan di Ruang Digital

Wednesday, 7 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Densus 88 AT Polri mengungkap temuan serius terkait paparan konten kekerasan dan ideologi ekstrem di ruang digital yang menyasar anak-anak dan remaja. Hal ini disampaikan dalam Konferensi Pers Penanganan Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital yang digelar di Gedung Awaloedin Djamin Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Kepala Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardana, S.I.K., menjelaskan bahwa pihaknya menemukan keberadaan komunitas digital yang berkembang secara masif di media sosial dan berpotensi mendorong kekerasan ekstrem, khususnya pada anak-anak.

“Kami membenarkan apa yang telah disampaikan Kepala BNPT, bahwa Densus 88 menemukan sebuah komunitas yang dibingkai dalam grup media sosial. Ini bukan satu-satunya, melainkan salah satu dari puluhan grup serupa yang telah kami identifikasi,” ujar Kombes Mayndra.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, kelompok-kelompok tersebut mulai terdeteksi sejak tahun 2025 dan hingga kini masih terus dilakukan intervensi bersama kementerian dan lembaga terkait di berbagai daerah. Konten yang disebarkan dikemas secara menarik, mulai dari video pendek, animasi, meme, hingga musik, yang berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan simpati terhadap ideologi kekerasan.

Menurutnya, kondisi ini menjadi sangat berbahaya ketika bersinggungan dengan psikologis anak-anak yang masih berada pada fase pencarian jati diri.

“Anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang dan cenderung mencari pengakuan. Paparan radikalisme dan kekerasan di media sosial dapat dengan cepat memengaruhi perilaku, emosi, dan pola pikir mereka,” jelasnya.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian serius adalah berkembangnya True Crime Community di kalangan remaja. Kombes Mayendra menegaskan, komunitas ini tumbuh secara sporadis tanpa tokoh atau organisasi resmi, namun memanfaatkan sifat ruang digital yang transnasional dan sensasional.

Ia juga memaparkan sejumlah kasus kekerasan global yang melibatkan remaja sepanjang tahun 2025, yang diketahui terinspirasi dari konten ekstrem di media sosial. Salah satu kasus terbaru terjadi di Moskow, Rusia, pada Desember 2025, di mana pelaku bahkan menuliskan frasa “Jakarta Bombing 2025” pada senjata yang digunakan.

“Tulisan itu diambil dan diunggah ke komunitas digital terkait. Ini menunjukkan bagaimana narasi kekerasan dapat melintasi batas negara dan menjadi inspirasi aksi nyata,” ungkapnya.

Kombes Mayndra menambahkan, Densus 88 sebenarnya telah mengidentifikasi potensi ancaman ini jauh sebelum insiden di SMA Negeri 72 Jakarta terjadi. Namun, karakter pelaku yang tertutup dan menarik diri dari lingkungan sosial membuat deteksi dini menjadi sulit.

Pasca insiden tersebut, Polri bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan intervensi lanjutan di berbagai daerah, hingga pada 22 Desember 2025 dilakukan penanganan serentak terhadap lebih dari 70 anak yang teridentifikasi dalam komunitas ini.

“Dari hasil wawancara, kami menemukan adanya rencana aksi kekerasan ekstrem, termasuk pengeboman sekolah, penusukan, hingga rencana bunuh diri setelah melakukan aksi,” kata Kombes Mayndra.

Ia mengungkapkan, dari 70 anak yang tersebar di 19 provinsi, sebanyak 67 anak telah menjalani asesmen, pemetaan, konseling, dan pendampingan. Mayoritas berada pada rentang usia 11–18 tahun, dengan dominasi usia 15 tahun.

Faktor pemicu keterlibatan mereka beragam, mulai dari perundungan, kondisi keluarga tidak harmonis, trauma, minimnya perhatian orang tua, hingga paparan konten pornografi dan kekerasan.

Menutup keterangannya, Kombes Mayndra mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, untuk lebih waspada terhadap perubahan perilaku anak.

“Ciri-ciri yang perlu diwaspadai antara lain ketertarikan berlebihan pada simbol dan tokoh pelaku kekerasan, menarik diri dari pergaulan, menyukai konten sadistik, marah saat gawainya diperiksa, serta membawa benda yang identik dengan kekerasan ke sekolah,” pungkasnya.

Berita Terkait

Satlantas Polres Klungkung Berhasil Ungkap Kasus Tabrak Lari, Pelaku Diamankan di Badung
Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Sat Samapta Polres Klungkung Intensifkan Patroli Malam di Terminal dan Pasar Galiran
Tim Jalak Nusa Polsek Nusa Penida Intensifkan Patroli Malam, Sambangi Pasar Malam dan Pelabuhan Tradisional Toyapakeh
Jaga Keamanan Akhir Pekan, Kapolsek Abiansemal Turun Langsung Gelar Patroli Malam Minggu
Sasar Rute Rawan dan Objek Vital, Polsek Bebandem Intensifkan Patroli KRYD Jaga Kondusifitas Malam Hari
UKL Polsek Kuta Utara Patroli Subuh Cegah Aksi Balap Liar Yang Resahkan Warga
Kapolda Bali Hadiri Pergelaran Perdana PKB XLVIII, Wujud Dukungan terhadap Kelestarian Budaya Bali
Blue Light Patrol Polsek Selat Antisipasi Gangguan Kamtibmas dan Berikan Edukasi kepada Remaja

Berita Terkait

Sunday, 14 June 2026 - 08:29

Satlantas Polres Klungkung Berhasil Ungkap Kasus Tabrak Lari, Pelaku Diamankan di Badung

Sunday, 14 June 2026 - 08:20

Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Sat Samapta Polres Klungkung Intensifkan Patroli Malam di Terminal dan Pasar Galiran

Sunday, 14 June 2026 - 08:18

Tim Jalak Nusa Polsek Nusa Penida Intensifkan Patroli Malam, Sambangi Pasar Malam dan Pelabuhan Tradisional Toyapakeh

Sunday, 14 June 2026 - 07:37

Jaga Keamanan Akhir Pekan, Kapolsek Abiansemal Turun Langsung Gelar Patroli Malam Minggu

Sunday, 14 June 2026 - 06:24

Sasar Rute Rawan dan Objek Vital, Polsek Bebandem Intensifkan Patroli KRYD Jaga Kondusifitas Malam Hari

Berita Terbaru